Photo credit: Halimah, Staf Komunikasi
Di Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Beka yang berada di Kabupaten Sigi, terdapat sebuah hutan bernama Hutan Ranjuri yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Keberadaan hutan Ranjuri telah ada jauh sebelum generasi masyarakat saat ini lahir. Bagi masyarakat sekitar, hutan ini bukan hanya sekedar lanskap alami, tetapi juga menjadi sumber kehidupan, identitas budaya, bahkan juga sebagai pelindung utama warga Desa Beka dari ancaman bencana alam, seperti banjir bandang dan gempa bumi.

Hutan yang juga dikenal dengan sebagai hutan purba ini berisikan pohon-pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun, bahkan ada yang mencapai 700 hingga 800 tahun. Salah satu jenis pohon yang mendominasi dan paling dikenal dari hutan ini adalah pohon kaili. Kayu dari pohon kaili terbukti kuat untuk meredam gempa bumi, bahkan pada skala yang sangat besar, yang pernah terjadi di Palu pada tahun 2018. Oleh karena itu, pohon kaili terus diupayakan untuk ditanam oleh masyarakat setempat, mengingat Hutan Ranjuri terletak di sekitar jalur sesar aktif Palu-Koro. Kayunya yang kuat tersebut juga sering kali dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi ringan, seperti pembuatan pagar. Namun, tingginya nilai ekonomi kayu ini juga menimbulkan masalah, yaitu penyalahgunaan penebangan kayu demi kepentingan pribadi. Padahal, pemanfaatan pohon kaili diperbolehkan dengan catatan hanya untuk kepentingan atau fasilitas bersama, seperti membangun pagar sekolah atau rumah ibadah, dan bukan untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Masyarakat juga sudah diajarkan sejak dini untuk tidak mengambil kayu secara berlebihan, dan aturan ini dijaga melalui hukum serta sanksi adat setempat.

Luas Hutan Ranjuri dulunya seluas 14 hektare, namun kini telah menyusut menjadi sekitar 9 hektare akibat perluasan wilayah permukiman warga yang secara perlahan mengurangi area hutan. Selain itu, fungsi hutan sebagai pelindung dari banjir juga mengalami penurunan karena kondisi hutan yang tidak lagi sepadat sebelumnya, yang diakibatkan oleh, salah satunya, aktivitas penebangan liar. Penurunan fungsi Hutan Ranjuri sebagai hutan penyangga ditandai dengan kerusakan permukiman warga sekitar hutan akibat banjir bandang pada tahun 2021. Peristiwa ini menjadi titik balik yang mendorong masyarakat setempat, khususnya anak muda, untuk kembali memperhatikan kondisi hutan. Saat ini, Hutan Ranjuri sehari-harinya dijaga oleh kelompok anak muda yang bernama Ranah Juang Lestari (Ranjuri). Upaya perlindungan pun mulai dilakukan, termasuk melalui penanaman bibit baru pohon kaili dan rencana pengembangan ekowisata.

Selain pohon kaili, hutan ini juga memiliki sekitar 33 mata air yang menjadi sumber utama kebutuhan air masyarakat. Namun, sejak terjadinya gempa pada tahun 2018 yang menyebabkan krisis air bersih, banyak masyarakat memasang pipa-pipa untuk mengalirkan air dari sumber ke permukiman mereka. Pemasangan pipa yang masif tersebut membuat debit air berkurang dan kondisi hutan tampak kurang terawat. Selain itu, banyak mata air yang ditutup untuk mencegah sapi yang berkeliaran dan menggunakan mata air tersebut sebagai tempat pembuangan kotoran.

Hutan Ranjuri juga memiliki beberapa area pemandian yang masih digunakan oleh masyarakat, yang dipisahkan antara area mandi untuk laki-laki dan perempuan. Ketika Sulawesi Tengah masih berada dalam masa kerajaan, wilayah Hutan Ranjuri memiliki pemandian khusus untuk raja dan ratu, dimana tempat pemandian ratu ditandai dengan kain berwarna kuning. Selain mandi, warga sekitar juga memanfaatkan tempat ini untuk mencuci pakaian. Namun, kondisi air yang dulunya melimpah, kini menjadi lebih sedikit dan cenderung kotor setelah dilakukan penyemenan (sementasi) oleh masyarakat.

Di balik fungsinya sebagai sumber kehidupan, Hutan Ranjuri juga menyimpan berbagai keunikan. Di dalam Hutan Ranjuri terdapat sebuah batu besar yang sudah ada sebelum Desa Beka pertama kali berdiri. Batu ini tidak hanya menjadi penanda usia hutan, tetapi juga menyimpan cerita yang dipercaya secara turun-temurun. Masyarakat Desa Beka meyakini bahwa di lokasi tersebut pernah ditemukan seorang bayi yang kemudian dianggap sebagai warga pertama Desa Beka. Karena nilai sejarah dan kepercayaan yang melekat, area ini dipandang sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga. Kini batu tersebut dinamai Situs Budaya Vatumotoe. Selain itu, hutan ini juga menjadi habitat bagi berbagai jenis burung endemik Sulawesi Tengah, seperti kakatua putih dan elang bondol, yang biasanya dapat dilihat pada pagi hari. Kehadiran satwa-satwa tersebut menunjukkan bahwa Hutan Ranjuri masih menyimpan banyak keanekaragaman hayati hingga saat ini.

