Kunjungan ke Sorgum Center Indonesia (SCI) di Ujung Berung, Bandung  

Photo Credit:  Dany Amelia Gozali, Staf Komunikasi Junior dan Ratna Ayu Lestari, Staf Multimedia 

Kekeringan sebagai dampak dari perubahan iklim berpotensi menyebabkan penurunan hasil panen, utamanya beras sebagai bahan makanan pokok masyarakat Indonesia. Dalam kondisi ini, pengembangan tanaman sorgum sebagai bahan makanan alternatif menjadi krusial untuk membantu menjaga ketersediaan pangan di tengah dampak perubahan iklim yang semakin tak terhindarkan.

 (Dokumentasi: IRID, 2026)  

Sorgum merupakan tanaman serealia yang mampu tumbuh pada lahan kering dengan ketersediaan air terbatas. Dengan pola tanam satu kali dalam setahun, sorgum hanya membutuhkan penyiraman selama 12 hari di awal masa tanam, kemudian dapat tetap tumbuh dalam kondisi kering.

 (Dokumentasi: IRID, 2026)

Dalam rangka meningkatkan pemahaman mengenai pengembangan sorgum, English English berkesempatan mengunjungi Sorgum Center Indonesia (SCI) pada 27 Januari 2026. SCI merupakan pusat pengembangan sorgum yang didirikan pada tahun 2024 dan berlokasi di kawasan Sekemala Integrated Farming (Sein Farm), Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat. Kawasan Sein Farm memiliki lahan yang didominasi lahan sawah tadah hujan seluas sekitar 1,5 hektare dengan ketersediaan air terbatas dan sistem perairan yang sangat bergantung pada curah hujan. Kondisi inilah yang mendorong SCI untuk melakukan pengembangan sorgum di lahan tersebut guna meningkatkan produktivitasnya.

 (Dokumentasi: IRID, 2026)

Dalam proses pengembangannya, SCI memanfaatkan bulir atau biji, batang, daun, hingga limbah hasil pengolahan sorgum untuk diolah menjadi berbagai produk pangan, pakan, dan energi. Bulir sorgum yang sudah melewati proses penyosohan dan penepungan dapat dimanfaatkan menjadi tepung sorgum. Tepung ini tidak mengandung gluten dan bermanfaat sebagai bahan baku pembuatan berbagai produk olahan pangan, seperti roti dan kue. Gambar di atas merupakan contoh bulir dan tepung sorgum.

 (Dokumentasi: IRID, 2026)

Batang sorgum yang sudah melewati proses ekstraksi atau penggilingan menggunakan mesin roller press (gambar di atas), akan menghasilkan nira yang berfungsi sebagai bahan baku gula sorgum. Gula dari nira sorgum dapat diolah dalam bentuk serbuk maupun cair. Bagi penderita diabetes, gula ini relatif aman dikonsumsi karena memiliki indeks glikemik[1] rendah, yaitu 35-53 (di bawah 55), sehingga dapat membantu mengontrol kadar gula darah.

 (Dokumentasi: IRID, 2026)

Daun sorgum dapat dimanfaatkan sebagai hijauan[2] dan bahan silase[3] untuk pakan ternak ruminansia[4], seperti sapi. Hal ini karena daun sorgum memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga dapat mendukung produktivitas ternak. Selain itu, silase berbasis daun sorgum dapat disimpan dalam waktu yang lama, sehingga dapat menjadi alternatif cadangan pakan, terutama saat ketersediaan hijauan terbatas.

(Dokumentasi: IRID, 2026)

Selain produk pangan dan pakan, SCI juga mengembangkan energi terbarukan berbahan baku sorgum. Nira dari batang sorgum dapat difermentasi dan didistilasi[5] untuk menghasilkan bioetanol. Setiap satu liter nira diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 300 sentimeter kubik (cc) bioetanol. Limbah cair hasil distilasi pun tidak terbuang, karena dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC).

Pengembangan sorgum di SCI tidak terlepas dari peran petani plasma[6] sebagai pemasok bahan baku. SCI menjalin kemitraan bersama petani plasma melalui pembelian gabah sorgum seharga Rp8.000 per kilogram, yang kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Skema kemitraan ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani, tetapi juga memberikan kepastian pasar yang mendorong petani untuk terus mengupayakan budi daya sorgum secara berkelanjutan di tingkat lokal.


[1]Indeks Glikemik (IG) adalah nilai yang menunjukkan kemampuan makanan berkabohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah.

[2]Hijauan adalah makanan ternak yang terdiri atas dedauanan, rumput, dan lainnya.

[3]Silase adalah metode mengawetkan hijauan pakan ternak dalam bentuk segar (basah).

[4]Ruminansia adalah hewan pemamah biak, seperti sapi dan kambing.

[5]Distilasi adalah proses memanaskan benda cair atau padat hingga berubah menjadi uap, yang disalurkan ke dalam wadah yang terpisah, lalu dikondensasikan dengan pendingin.

[6]Petani plasma adalah mereka yang masuk dalam program kemitraan inti-plasma antara perusahaan dan petani.