Mendukung
Dekarbonisasi dan
Ketangguhan iklim

Lewat riset dan advokasi, IRID berkomitmen mendukung upaya-upaya dekarbonisasi dan mewujudkan masyarakat berketangguhan iklim.

/02

01

02

/02

Indonesia Research Institute for Decarbonization (IRID) adalah sebuah lembaga
think tank di Indonesia yang berfokus pada upaya-upaya dekarbonisasi dan 
realisasi masyarakat berketangguhan iklim baik di Indonesia maupun
Internasional, melalui tiga keahlian kami: analisis hukum, 
advokasi kebijakan dan peningkatan kapasitas

Artikel dan blog terbaru

PUBLIKASI Terbaru Kami

Publikasi

G20 Seminar Series Report “Unlocking Financing for Just Energy Transition”

Sep 22, 2022Pada bulan Juli 2022 lalu, Energy Transition Working Group (ETWG) G20 2022 dan T20 bekerjasama dengan IRID dan beberapa mitra lainnya menggelar

KEAHLIAN KAMI

IRID menjalin kerja sama strategis dengan berbagai pemangku kepentingan dan pemangku
keahlian dalam upaya mewujudkan dekarbonisasi dan ketangguhan iklim melalui
tiga keahlian utama kami.

Maria Adianti Putri – Staf Komunikasi Junior

Bergelar Bachelor of International Relations, Maria memiliki ketertarikan sangat dalam di bidang komunikasi internasional. Sejak tahun 2018-2022, Maria sangat aktif terlibat sebagai relawan dalam beberapa proyek internasional seperti B20 Summit Indonesia 2022, AIESEC Program “Education Quality: World Without Borders” Kharkiv- Ukraine 2019, dan Asian Games 2018. Maria juga aktif berpartisipasi dalam organisasi kepemudaan seperti Australian – Indonesian Youth Association (AIYA) dan Posthink Indonesia Community. Pada tahun 2018, Maria juga mendapat gelar sebagai salah satu Mahasiswa Berprestasi di Universitas Katolik Parahyangan. Sejak tahun 2020, Maria memiliki pengalaman di bidang komunikasi eksternal dan pengelolaan sosial media di salah satu think tank di Indonesia, Resilience Development Initiative (RDI), sebagai Outreach Officer.

Virtual Card

Sandra Juliana Tobing – Asisten Administrasi

Sandra memiliki pengalaman kerja di bidang administrasi selama lebih dari tujuh tahun di sejumlah perusahaan swasta. Dia memulai karirnya pada tahun 2010 di PT Permata Bahari Mandiri sebagai bagian dari staf administrasi. Dia melanjutkan perjalanan profesionalnya sebagai tim pengelola media sosial PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), salah satu perusahaan ekspedisi terbesar di Indonesia, pada tahun 2014. Pada tahun 2019 hingga 2020, Sandra bekerja di PT Penta Harbangan Energi sebagai asisten administrasi. Sebelum bergabung dengan IRID di tahun 2021, Sandra aktif sebagai Team Leader of Admin & Project Event di PT Citra Bahasa Global. 

Dita Ramadhani – Spesialis Komunikasi

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di sektor lingkungan dan pembangunan, Dita mulai bekerja di isu lingkungan sejak tahun 2008 ketika bergabung di salah satu NGO internasional lingkungan terbesar di dunia, bertempat di Jakarta, Indonesia. Sebelum bergabung bersama IRID, dia bekerja sebagai konsultan komunikasi independen selama tujuh tahun untuk berbagai klien dan proyek. Peran utamanya antara lain membuat dokumen komunikasi strategis, panduan komunikasi eksternal, laporan, publikasi dan media sosial untuk beragam sektor, termasuk Keuangan Berkelanjutan, Kelautan dan Perikanan, dan Restorasi Gambut. Dita memiliki gelar Master of Arts untuk Communications Marketing.

Kevin Setiadi – Peneliti Junior

Kevin meraih predikat cum laude dari Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 2021. Dia menjuarai kompetisi tingkat nasional peradilan semu hukum humaniter internasional pada tahun 2018 dan mewakili Indonesia dalam kompetisi yang sama di tingkat Asia-Pasifik pada tahun 2019. Sebelum bergabung dengan IRID, Kevin berkesempatan menjadi pemagang di Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri RI, kemudian bergabung pada salah satu firma hukum di Jakarta sebagai associate. Hingga saat ini Kevin juga aktif di Perkumpulan Masyarakat Hukum Internasional Indonesia (INASIL) sebagai sukarelawan.

Julia Theresya – Project Officer

Julia telah bekerja di organisasi non-profit selama tujuh tahun dan memulai karirnya di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB). Pada tahun 2018, dia aktif berkontribusi di Pusat Penelitian Bencana, Universitas Pertahanan RI sebagai peneliti dan project associate, berfokus pada isu-isu ketangguhan masyarakat dan manajemen bencana. Selama tahun 2018-2022, Julia mengelola beberapa proyek Innovation Fund dan Uni Eropa terkait pangan berkelanjutan, masyarakat hijau, dan energi terbarukan di bawah Hivos Southeast Asia. Julia meraih gelar Magister Manajemen Bencana dari Universitas Pertahanan RI.

Ajeng Andayani – Peneliti

Ajeng memulai karir iklimnya di Departemen Pembangunan Internasional (DFID) pada tahun 2010. Dia fokus bekerja di isu pendanaan iklim di bawah berbagai institusi, antara lain Dewan Nasional Perubahan Iklim, GiZ/Center for Climate Change and Multilateral Policy, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI. Pada tahun 2015, Ajeng menjadi Deputi Asisten Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk perubahan iklim dan bergabung sebagai negosiator isu pendanaan iklim di Konferensi Perubahan Iklim UNFCCC pada tahun 2017 hingga 2019. Ajeng bergabung dengan IRID sebagai peneliti sejak tahun 2022.

Paul Butarbutar – Direktur Pengembangan Program

Paul memiliki keahlian di beragam isu terkait perubahan iklim, pasar karbon dan penetapan harga karbon, energi terbarukan serta investasi/pembiayaan rendah karbon selama lebih dari 24 tahun. Pengalaman Paul antara lain berfokus kepada advokasi kebijakan, akuisisi dan pengembangan proyek, dan pembiayaan proyek di bawah lembaga pemerintah Indonesia seperti Kementerian/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, dan sejumlah organisasi donor seperti UNDP, ADB, Bank Dunia, GIZ, serta FCDO UK.

Sejak tahun 2011, Paul menjabat sebagai Ketua Indonesian Carbon Management Association dan Direktur Eksekutif Indonesia Renewable Energy Society (IRES). Paul juga terlibat dalam tim perunding Pasal 6 Persetujuan Paris pada COP26 di Glasgow tahun 2022.

Henriette Imelda – Direktur Advokasi

Henriette Imelda (Ime) berkecimpung di isu perubahan iklim dan energi selama lebih dari 15 tahun sejak bergabung dengan Pelangi Indonesia pada tahun 2006 sebagai peneliti. Sebelum mendirikan IRID, Imelda bekerja di Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Hivos Southeast Asia. Keahliannya meliputi energi hijau dan inklusif dan pembangunan rendah karbon. Kini Ime menjabat sebagai Direktur Advokasi Kebijakan IRID.

Ime merupakan bagian dari Delegasi Republik Indonesia untuk perundingan iklim, terutama dalam isu pendanaan iklim sejak COP20 di Lima, Peru. Imelda juga terlibat dalam perundingan iklim terkait dengan Persetujuan Paris. Sejak tahun 2013, dia telah terlibat di dalam pembahasan isu pendanaan iklim khususnya Green Climate Fund, melalui konsorsium ahli pendanaan iklim Climate Finance Advisory Service (CFAS).

Andri Akbar Marthen – Direktur Penelitian

Andri berpengalaman lebih dari 20 tahun bekerja di bidang hukum dengan spesialisasi isu antara lain lingkungan, kehutanan, energi, dan iklim. Dia bekerja sebagai konsultan hukum berbagai perusahaan untuk isu-isu lingkungan dan terkait iklim di beberapa yurisdiksi nasional, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, dan Inggris. Andri juga pernah menjadi penasihat hukum untuk pemerintah nasional negara-negara tersebut dan organisasi internasional yang bergerak di isu perubahan iklim seperti UNEP dan GGGI.

Sebagai pengacara lingkungan dan iklim eksternal, Andri pernah berkesempatan menjadi penasihat hukum utama Pemerintah Indonesia dalam Perjanjian Pembayaran Pengurangan Emisi pada Pendekatan Yurisdiksi REDD+ di Provinsi Kalimantan Timur antara Pemerintah Indonesia dan FCPF/Bank Dunia. Andri terlibat penyusunan rancangan beragam regulasi beberapa kementerian di Indonesia, termasuk peraturan terkait penentuan harga karbon, dan revisi Undang-Undang Energi Nomor 30 Tahun 2007 yang diinisiasi oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI). 

Moekti Handajani (Kuki) Soejachmoen – Direktur Eksekutif

Kuki Soejachmoen sudah berkecimpung di isu perubahan iklim sejak awal dekade 1990-an. Pada tahun 2000, Kuki bergabung dengan Pelangi Indonesia dan mulai aktif terlibat di dalam diplomasi iklim internasional sebagai perwakilan dari kelompok masyarakat sipil, setelah sebelumnya menjadi peneliti di bidang energi dan lingkungan pada di Pusat Penelitian Energi – Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejak tahun 2007, Kuki menjadi bagian dari Delegasi Republik Indonesia untuk perundingan iklim.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Direktur Eksekutif Pelangi Indonesia, Kuki bergabung dengan Kantor Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk Perubahan Iklim selama dua periode (2010-2014 dan 2015-2019), di mana Kuki terlibat aktif dalam perundingan iklim internasional, termasuk dalam proses penyiapan Amandemen Doha dan Persetujuan Paris. Pasca pelaksanaan COP21 hingga saat ini, Kuki menjadi bagian dari tim perunding Pasal 6 Persetujuan Paris. Selama hampir tiga dekade, Kuki terlibat di dalam berbagai studi dan analisis kebijakan terkait perubahan iklim, energi, transportasi, dan kualitas udara.