{"id":5759,"date":"2024-11-04T16:25:05","date_gmt":"2024-11-04T09:25:05","guid":{"rendered":"https:\/\/irid.or.id\/?p=5759"},"modified":"2024-11-04T16:27:28","modified_gmt":"2024-11-04T09:27:28","slug":"pentingnya-ketahanan-iklim-dalam-sektor-energi-di-asia-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/irid.or.id\/en\/pentingnya-ketahanan-iklim-dalam-sektor-energi-di-asia-tenggara\/","title":{"rendered":"Pentingnya Ketahanan Iklim dalam Sektor Energi di Asia Tenggara"},"content":{"rendered":"<p>Dampak dari perubahan iklim semakin terlihat di berbagai negara di Asia, khususnya Asia Tenggara, dengan meningkatnya suhu panas ekstrem, kekeringan, hujan lebat, dan naiknya permukaan&nbsp;air&nbsp;laut. Dampak&nbsp;perubahan&nbsp;iklim tersebut telah mempengaruhi keamanan energi, infrastruktur, serta performa sistem energi&nbsp;yang&nbsp;sudah dan yang&nbsp;sedang&nbsp;dibangun. Infrastruktur energi mendatang akan beroperasi dengan kondisi iklim yang berbeda dari hari ini dan pembangkit listrik dengan energi terbarukan ke depannya juga diprediksi menjadi tidak efisien&nbsp;(IEA, 2024).&nbsp;Mengingat dampak perubahan iklim terhadap sistem energi akan&nbsp;terus&nbsp;meningkat, maka membangun serta memperkuat ketahanan iklim dalam sektor energi menjadi tak kalah penting guna menjaga keamanan energi di masa depan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-624426138-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5760\" srcset=\"https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-624426138-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-624426138-300x200.jpg 300w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-624426138-768x512.jpg 768w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-624426138-18x12.jpg 18w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-624426138-200x133.jpg 200w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-624426138.jpg 1254w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dampak Perubahan<\/strong><strong>&nbsp;<\/strong><strong>i<\/strong><strong>klim di Asia Tenggara<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Dalam laporan&nbsp;Intergovernmental Panel on Climate Change&nbsp;(2023), terdapat tiga bencana iklim yang menjadi masalah utama di Asia Tenggara, yaitu gelombang panas (<em>heatwaves<\/em>), badai siklon<em>,&nbsp;<\/em>dan intensitas curah hujan tinggi<em>.&nbsp;<\/em>Asia Tenggara diprediksi akan mengalami kenaikan suhu mencapai lebih dari 35<sup>o<\/sup>C dengan periode gelombang panas<em>&nbsp;<\/em>dua kali lebih lama dari periode pra-industri. Hal ini&nbsp;telah terjadi&nbsp;di Thailand pada tahun 2023&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.rri.co.id\/internasional\/685947\/puluhan-orang-tewas-akibat-panas-ekstrem-di-thailand#:~:text=Sepanjang%20April%2C%20Thailand%20mencatat%20suhu,6%20derajat%20Celsius%2C%20pada%202023.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">yang suhu terpanasnya mencapai rekor tertinggi, yaitu 44,2<sup>o<\/sup>C<\/a>. Asia Tenggara menjadi wilayah yang paling rentan terekspos badai siklon, dengan Vietnam, Myanmar, dan Filipina sebagai negara dengan risiko badai siklon tertinggi. Meskipun frekuensi kemunculan badai siklon di wilayah tersebut berkurang, namun intensitas badai siklon tetap meningkat setiap tahunnya (<a href=\"https:\/\/www.ipcc.ch\/report\/ar6\/wg1\/downloads\/report\/IPCC_AR6_WGI_FullReport_small.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">IPCC, 2023<\/a>). Badai siklon sendiri terjadi disebabkan oleh adanya kenaikan temperatur laut, sehingga mengakibatkan peningkatan kelembaban udara yang berdampak pada naiknya intensitas siklon.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, intensitas curah hujan yang tinggi berdampak pada munculnya bencana banjir, seperti yang terjadi di Indonesia dan&nbsp;Kamboja. Pada tahun 2023,&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/izha32488\/657f203212d50f793e60fed2\/bencana-alam-di-indonesia-terus-meningkat-pemerintah-dan-masyarakat-diminta-tingkatkan-mitigasi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">banjir tercatat menjadi bencana yang paling banyak terjadi di Indonesia dengan 852 kejadian selama periode 1 Januari hingga 1 September 2023<\/a>&nbsp;(BNPB, 2023). Hal ini disebabkan oleh kenaikan suhu yang meningkatkan evaporasi<a href=\"applewebdata:\/\/5AF5EC44-055C-4AF9-80E3-015A6EA8BC41#_ftn1\"><sup>[1]<\/sup><\/a>, sehingga berakibat pada semakin tingginya frekuensi dan intensitas curah hujan&nbsp;serta meningkatnya risiko banjir. Di sisi lain,&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.ipcc.ch\/report\/ar6\/wg1\/downloads\/report\/IPCC_AR6_WGI_FullReport_small.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">potensi kenaikan permukaan air laut setinggi 0,5-0,7-meter<\/a>&nbsp;akan&nbsp;mengancam keberadaan daerah-daerah pesisir di Asia Tenggara, yang&nbsp;juga menjadi lokasi mata pencaharian utama. Lebih dari 39% populasi yang tinggal di daerah pesisir menjadi rawan terdampak<a href=\"applewebdata:\/\/5AF5EC44-055C-4AF9-80E3-015A6EA8BC41#_ftn2\"><sup>[2]<\/sup><\/a>(ASCCR, 2021). Jika tidak ditangani tepat waktu, fenomena kenaikan permukaan laut ini akan membahayakan lebih dari 50% populasi di Thailand,&nbsp;25%&nbsp;populasi di Filipina, dan 20% populasi di Indonesia (IEA, 2024).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kerusakan pada Sektor Energi&nbsp;<\/strong><strong>Terbarukan di Asia Tenggara&nbsp;<\/strong><strong>akibat Bencana Iklim<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Tingginya intensitas dan frekuensi bencana&nbsp;akibat perubahan&nbsp;iklim yang terjadi di Asia Tenggara, tidak hanya berdampak pada keberlangsungan kehidupan masyarakat,&nbsp;namun juga berdampak pada sektor energi. Dalam mendukung transisi energi, pembangkit listrik dari energi terbarukan perlu mendapatkan perhatian yang lebih karena berkaitan&nbsp;erat dengan perubahan iklim, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang bergantung pada kondisi cuaca&nbsp;dan iklim.&nbsp;Gelombang panas dengan suhu yang sangat tinggi juga&nbsp;akanmenghasilkan dampak yang&nbsp;buruk pada PLTS. Suhu dan cuaca yang lebih tinggi dari 30\u00b0C dapat merusak atau menurunkan umur PLTS yang seharusnya beroperasi optimal dalam kondisi sejuk dan cerah. Meskipun kebanyakan PLTS di Asia Tenggara berlokasi di tempat dengan cuaca dan suhu yang ideal (25\u00b0C-30\u00b0C), PLTS tersebut masih berpotensi terpapar gelombang panas ekstrem dalam beberapa dekade mendatang (IEA, 2024).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-172443042-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5761\" srcset=\"https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-172443042-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-172443042-300x200.jpg 300w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-172443042-768x512.jpg 768w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-172443042-18x12.jpg 18w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-172443042-200x133.jpg 200w, https:\/\/irid.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/iStock-172443042.jpg 1254w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Ketersediaan air sebagai penggerak pembangkit listrik, seperti mikrohidro, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), juga berpotensi terdampak perubahan iklim, khususnya pada siklus hidrologi. Adanya perubahan pola curah hujan ekstrem dan musim kemarau yang berkepanjangan akibat perubahan iklim memengaruhi ketersediaan air dan produksi untuk jenis PLTA yang menggunakan&nbsp;<em>run-of-river<\/em>&nbsp;dan waduk (IEA, 2024). Bencana banjir akibat hujan lebat berkepanjangan serta tanah longsor juga berpotensi merusak perangkat fisik pembangkit listrik yang digerakkan air, seperti yang terjadi di Vietnam dan Kamboja. Pada Juni 2023, terjadi penurunan tingkat air di bendungan PLTA yang diperparah dengan tingginya permintaan listrik akibat cuaca panas yang ekstrem. Hal ini mengakibatkan gangguan pasokan listrik di daerah aliran sungai Mekong yang berujung pada&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.france24.com\/en\/live-news\/20230616-vietnam-s-power-crisis-hits-local-firms-foreign-investors\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pemadaman listrik selama 26 jam di Vietnam<\/a>. Sementara itu, di Kamboja pada&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.powerengineeringint.com\/renewables\/hydroelectric\/cambodia-to-reduce-hydropower-and-develop-coal-and-solar-capacity\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tahun 2019 terjadi kasus kekurangan aliran listrik nasional<\/a>&nbsp;yang sebagian besar diakibatkan oleh kekeringan panjang, sehingga berakibat pada rendahnya level air di waduk.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Solusi dan Praktik Baik di Asia Tenggara<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Negara&nbsp;yang&nbsp;memiliki ketergantungan tinggi pada&nbsp;sumber energi&nbsp;terbarukan atau tidak terbarukan&nbsp;tertentu, akan&nbsp;memiliki&nbsp;kerentanan&nbsp;yang tinggi pula terhadap&nbsp;iklim. Dalam mengatasi kerentanan iklim di sektor energi,&nbsp;<em>energy mix<\/em>&nbsp;dapat menjadi salah satu solusi. Distrik Rangmati Hill di Bangladesh merupakan contoh praktik baik dalam mengatasi isu ini. Distrik tersebut berhasil memperbaiki ketahanannya melalui keragaman energi terbarukan pada sektor energi mereka, seperti memasang&nbsp;<em>solar-powered tube well<\/em>&nbsp;yang digunakan untuk memompa, menyimpan, dan mendistribusikan air ke rumah-rumah&nbsp;pada saat&nbsp;kekeringan melanda (IEA,2024).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, pendanaan jangka panjang dan terprogram juga menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas investasi dalam menghadapi perubahan iklim di sektor energi. Dalam hal ini,&nbsp;<em>incentive investment<\/em>&nbsp;<a href=\"applewebdata:\/\/5AF5EC44-055C-4AF9-80E3-015A6EA8BC41#_ftn3\"><sup><em><sup><strong>[3]<\/strong><\/sup><\/em><\/sup><\/a>&nbsp;dapat mendorong partisipasi sektor swasta, yang dapat mempercepat pengembangan proyek-proyek hijau. Peningkatan skala&nbsp;<em>resilient investment<\/em><sup><em><sup><strong>[4]<\/strong><\/sup><\/em><\/sup>&nbsp;juga diperlukan untuk mengatasi risiko yang muncul akibat perubahan iklim (IEA, 2024). Terlebih lagi, menyertakan agenda investasi di sektor energi dalam&nbsp;<em>National Adaptation Plans<\/em>&nbsp;(NAPs) dapat menjadi contoh bagaimana integrasi kebijakan energi dapat memperkuat ketahanan iklim dan mendorong pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional. Sebagai contoh,&nbsp;&nbsp;Kiribati yang memasukkan&nbsp;<em>energy sector investments<\/em>&nbsp;dalam&nbsp;perencanaan dan aksinya, sehingga&nbsp;dapat mendukung&nbsp;transisi ke energi terbarukan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\"><sup><a href=\"applewebdata:\/\/5AF5EC44-055C-4AF9-80E3-015A6EA8BC41#_ftnref1\">[1]<\/a><\/sup> Evaporasi merupakan&nbsp;proses penguapan air dari permukaan bumi menjadi uap air atau gas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\"><sup><a href=\"applewebdata:\/\/5AF5EC44-055C-4AF9-80E3-015A6EA8BC41#_ftnref2\">[2]<\/a><\/sup> <a href=\"https:\/\/asean.org\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/ASCCR-e-publication-Correction_8-June.pdf\">https:\/\/asean.org\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/ASCCR-e-publication-Correction_8-June.pdf<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\"><a href=\"applewebdata:\/\/5AF5EC44-055C-4AF9-80E3-015A6EA8BC41#_ftnref3\"><sup>[3]<\/sup><\/a>&nbsp;Skema pendanaan yang biasanya digunakan oleh Pemerintah berupa pemberian insentif guna menarik investasi untuk program-program yang berhubungan dengan energi dan perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\"><a href=\"applewebdata:\/\/5AF5EC44-055C-4AF9-80E3-015A6EA8BC41#_ftnref4\"><sup>[4]<\/sup><\/a>&nbsp;Skema pendanaan yang ditujukan untuk mengurangi dampak risiko dari bencana dan perubahan iklim serta membantu pembentukan masa depan yang berkelanjutan.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dampak dari perubahan iklim semakin terlihat di berbagai negara di Asia, khususnya Asia Tenggara, dengan meningkatnya suhu panas ekstrem, kekeringan, hujan lebat,<\/p>\n<div><a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/irid.or.id\/en\/pentingnya-ketahanan-iklim-dalam-sektor-energi-di-asia-tenggara\/\"><\/a><\/div>","protected":false},"author":6,"featured_media":5762,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ocean_post_layout":"","ocean_both_sidebars_style":"","ocean_both_sidebars_content_width":0,"ocean_both_sidebars_sidebars_width":0,"ocean_sidebar":"","ocean_second_sidebar":"","ocean_disable_margins":"enable","ocean_add_body_class":"","ocean_shortcode_before_top_bar":"","ocean_shortcode_after_top_bar":"","ocean_shortcode_before_header":"","ocean_shortcode_after_header":"","ocean_has_shortcode":"","ocean_shortcode_after_title":"","ocean_shortcode_before_footer_widgets":"","ocean_shortcode_after_footer_widgets":"","ocean_shortcode_before_footer_bottom":"","ocean_shortcode_after_footer_bottom":"","ocean_display_top_bar":"default","ocean_display_header":"default","ocean_header_style":"","ocean_center_header_left_menu":"","ocean_custom_header_template":"","ocean_custom_logo":0,"ocean_custom_retina_logo":0,"ocean_custom_logo_max_width":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_width":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_width":0,"ocean_custom_logo_max_height":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_height":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_height":0,"ocean_header_custom_menu":"","ocean_menu_typo_font_family":"","ocean_menu_typo_font_subset":"","ocean_menu_typo_font_size":0,"ocean_menu_typo_font_size_tablet":0,"ocean_menu_typo_font_size_mobile":0,"ocean_menu_typo_font_size_unit":"px","ocean_menu_typo_font_weight":"","ocean_menu_typo_font_weight_tablet":"","ocean_menu_typo_font_weight_mobile":"","ocean_menu_typo_transform":"","ocean_menu_typo_transform_tablet":"","ocean_menu_typo_transform_mobile":"","ocean_menu_typo_line_height":0,"ocean_menu_typo_line_height_tablet":0,"ocean_menu_typo_line_height_mobile":0,"ocean_menu_typo_line_height_unit":"","ocean_menu_typo_spacing":0,"ocean_menu_typo_spacing_tablet":0,"ocean_menu_typo_spacing_mobile":0,"ocean_menu_typo_spacing_unit":"","ocean_menu_link_color":"","ocean_menu_link_color_hover":"","ocean_menu_link_color_active":"","ocean_menu_link_background":"","ocean_menu_link_hover_background":"","ocean_menu_link_active_background":"","ocean_menu_social_links_bg":"","ocean_menu_social_hover_links_bg":"","ocean_menu_social_links_color":"","ocean_menu_social_hover_links_color":"","ocean_disable_title":"default","ocean_disable_heading":"default","ocean_post_title":"","ocean_post_subheading":"","ocean_post_title_style":"","ocean_post_title_background_color":"","ocean_post_title_background":0,"ocean_post_title_bg_image_position":"","ocean_post_title_bg_image_attachment":"","ocean_post_title_bg_image_repeat":"","ocean_post_title_bg_image_size":"","ocean_post_title_height":0,"ocean_post_title_bg_overlay":0.5,"ocean_post_title_bg_overlay_color":"","ocean_disable_breadcrumbs":"default","ocean_breadcrumbs_color":"","ocean_breadcrumbs_separator_color":"","ocean_breadcrumbs_links_color":"","ocean_breadcrumbs_links_hover_color":"","ocean_display_footer_widgets":"default","ocean_display_footer_bottom":"default","ocean_custom_footer_template":"","omw_enable_modal_window":"enable","ocean_post_oembed":"","ocean_post_self_hosted_media":"","ocean_post_video_embed":"","ocean_link_format":"","ocean_link_format_target":"self","ocean_quote_format":"","ocean_quote_format_link":"post","ocean_gallery_link_images":"off","ocean_gallery_id":[],"footnotes":""},"categories":[121],"tags":[109,59,155,68,156,72],"class_list":["post-5759","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-asia-tenggara","tag-indonesia","tag-ketahanan-iklim","tag-perubahan-iklim","tag-sektor-energi","tag-transisi-energi","entry","has-media"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5759","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5759"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5759\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5766,"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5759\/revisions\/5766"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5762"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/irid.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}